Cerita Sang Jurnalis Setelah Kepergian Mendiang Ir. Hein Namotemo, M.SP.

Penulis : Febyola Lilipory, SIKom.

 

Hari - hari di selimuti duka yang mendalam setelah kepergian sang motivator, sang Birokrasi, bapak Perdamaian, bapak Rekonsiliasi dan sebutan lainnya yang pantas untuk bapak tercinta Ir. Hein Namotemo, M.SP., kembali lagi cerita saya tulis untuk mendiang Bupati Halmahera Utara 2 periode 2005 - 2015.

 

Tangan ini tak pernah berhenti untuk menulis, menjadikan sebuah cerita yang saya tuangkan di media online maupun video yang saya ambil dari RSUD Tobelo, saat melayat di rumah, upacara Kedinasan pelepasan mendiang di kantor Bupati Halmahera Utara, pelepasan mendiang di Rumah Adat Hibualamo, pelepasan di Gereja Sentrum Lembah Kemuliaan Tobelo maupun ibadah untuk pemakaman mendiang. 

 

Setiap kali saya menulis maupun mengetik berita untuk om Hein... Begitu nama akrab mendiang yang saya panggil dari masa kecil saya. Huruf yang saya rangkai menjadi kata, kata yang saya rangkai menjadi kalimat dan menjadi beberapa paragraf sampai menjadi sebuah berita yang menceritakan tentang kepergian om Hein. 

 

Begitu juga sebagai Youtuber, saya ingin om Hein selalu dikenang lewat channel Youtube pribadi saya. Video yang saya rekam, saya pulang ke rumah berusaha untuk mengedit sebaik mungkin. Karena pada saat pengambilan video, ribuan orang yang hadir membuat saya kesulitan mengambil gambar atau video karena harus berdesak desakan. 

 

Mengetik berita dan mengedit video sebelum tayang dan di upload, air mata ini harus terus keluar membasahi pipi ini, saya harus menangis dulu dan terus menangis. Saya mengambil tisu untuk menghapus air mata saya yang sudah terlebih dahulu membasahi handphone alat komunikasi yang saya gunakan. 

 

Om Hein... Bapak Ir. Hein Namotemo M.SP., sebuah nama yang begitu berarti bagi kami para jurnalis. Kepemimpinanmu selalu membawa kami untuk memahami bahwa negeri Hibualamo ini harus diketahui semua orang, ditulis oleh tangan - tangan para jurnalis tentang adat, tentang pembangunan negeri ini dan masih banyak tulisan tentangmu. 

 

Kami tidak mengakhiri tulisan tentangmu sampai disini, tapi kami akan terus menulis tentang perjuanganmu yang dinikmati anak cucu kami, dinikamti masyarakat Halmahera Utara. 

 

Terima kasih om Hein...dan cerita yang Eby buat ini. Tangan terasa bergetar, dada terasa sesak, karena air mata terus mengalir. Di kamar ini menjadi saksi kelabu cerita ini. Cerita dari sang jurnalis. Di Rabu yang terasa kelam setelah kepergianmu beberapa hari lalu dan hari ini 10 Desember 2025 cerita yang Eby persembahkan untuk om Hein. Selamat jalan Eby pe motivator sejati. Sorga dan keabadian untuk om Hein. 

 


Berita Lainnya