Kepemimpinan Piet – Kasman, Representasi Canga “Kesatria” Tobelo – Galela Abad 21

Kepemimpinan Piet – Kasman, Representasi Canga “Kesatria” Tobelo – Galela Abad 21

Oleh : A.Rahman Tjereni, Wartawan Halmahera Utara (AWPI)

 

RSPD Halut - Canga Tobelo – Galela bukan sekedar menari. Ia kitab gerak para pelaut Halmahera Utara yang menolak jadi penonton di laut sendiri. Kapita berdiri di haluan, teriak “Hootuu..!!!, penari sinkronisasi kiri-kanan hentak kaki serempak, salawaku diayun, parang dikilat. Mereka dijuluki “bajak laut” karena membajak jalur di perairan yang menguasai armada asing. Lima abad kemudian, gerakan itu hidup lagi di meja Bupati Piet dan Wakil Bupati Kasman.

 

Poros Maritim Dunia selama ini terdengar seperti urusan Jakarta. Namun sejak tahun 2025, kunci untuk membuka pintu Pasifik ternyata dipegang oleh seorang bupati dari Halmahera Utara. Melalui serangkaian langkah yang spesifik, terukur, dan berani, Bupati Halmahera Utara mengubah Pelabuhan Canga Tobelo dari dermaga perintis menjadi kandidat Deep Sea Gateway Indonesia ke ekonomi global.

 

Ini bukan soal pencitraan. Ini soal unlocking : membuka kunci geografi, komoditas, dan birokrasi yang selama 10 tahun terakhir menggembok Halmahera Utara sebagai “Daerah Belakang”.

 

Laut Pasifik tidak menunggu siapa-siapa. Setiap hari 1.800 kapal kontainer melintasinya, membawa 62% nilai perdagangan dunia. Selama puluhan tahun, Halmahera Utara hanya menyaksikan arus itu dari kejauhan.

 

Dan sejak 2025, dua nama mengubah arah pandang. Piet dan Kasman. Bupati dan Wakil Bupati Halmahera Utara yang memimpin Canga “Kesatria” tidak lagi sebagai jalur bajak laut, tetapi sebagai pintu modern ke perekonomian global.

 

Mereka bukanlah pemimpin yang banyak bicara. Mereka pemimpin yang banyak spreadsheet. Dengan pendekatan teknokratis yang dibungkus melalui budaya Hibualamo, musyawarah adat, Piet-Kasman membuka tiga kunci sekaligus: kunci geografi, kunci komoditas, dan kunci institusi. Hasilnya, Pelabuhan Canga Tobelo kini masuk peta pelayaran dunia sebagai kandidat gerbang laut dalam Indonesia di Pasifik Barat.

 

Buka Gembok Peta

Langkah awal Bupati bukan membangun, tapi meyakinkan. Pada bulan Maret 2025, ia membawa satu lembar peta ke Bappenas dan Kemenhub: peta ALKI III. Di peta itu, Pelabuhan ditandai titik merah, hanya 0,4 mil laut dari jalur pelayaran internasional.

 

Hari ini, Piet – Kasman memimpin dengan gerakan Canga yang sama. Mereka membajak jalur ekonomi global dari kemandirian di pelabuhan Bitung dan Surabaya.

 

Kepemimpinan Piet – Kasman sebagai representasi Tarian Canga “Kesatria” Tobelo – Galela membuktikan dengan membajak itu perlu. Jika tidak, hasil bumi kita terus dibajak tengkulak. Bajak laut modern pakai kontrak. Parangnya adalah pasal. Rampasannya untuk membangun Negeri Hibualamo Halmahera Utara.

 

Gaya Kepemimpinan : Modern karena Terukur, Canga karena Merakyat.

Penulis menyebut Piet-Kasman sebagai “Pemimpin Canga Modern” karena beberapa hal, yaitu ;

Pertama : Modern, Karena setiap keputusan dalam rapat-rapat selalu berdasarkan data dasar. Setiap paparan selalu dimulai dengan Nautical chart dan cash flow bukan foto. Kedua : Pemimpin Canga, Kepemimpinan Piet-Kasman selalu mengakar pada budaya Hibualamo lalu ke Musrenbang dan Tematik lalu berakhir pada eksekusi bukan janji.

 

Sepak terjang Bupati Halmahera Utara membuktikan satu hal: poros maritim tidak harus menunggu titah dari pusat. Daerah bisa membuka kuncinya sendiri, asal punya data, nyali, dan mau turun ke dermaga, bukan hanya ke panggung.

 

Dulu Canga Tobelo – Galela membajak jalur rempah dari Portugis. Kini Piet-Kasman membajak jalur pengasuhan dari kemandirian ke Bitung dan Surabaya. Komandonya sama: “Hootuu!!”, jalan dibuka.

 

Gerakan Hentakan Kaki: Membuka Jalan dengan Hukum 

Dalam Canga, hentakan kaki adalah kode “tanah sudah kita injak, maju”. Piet – Kasman menerjemahkan hentakan kaki menjadi tiga produk hukum yang membuat jalan tidak bisa ditutup saat pergantian Kepemimpinan.

 

Kapita yang Tidak Pernah Turun dari Haluan

Sebab, Canga Sejati tidak pernah berhenti menari. Dulu di haluan perahu. Kini di haluan sejarah. Dan dari haluan itu, Halmahera Utara sedang membajak takdirnya sendiri.

 

Dari Tobelo, Indonesia sedang mengetuk pintu dunia. Dan kali ini, kuncinya ada di tangan kita.

Piet-Kasman membuktikan bahwa poros ekonomi maritim global tidak harus dimulai dari Jakarta. Ia bisa dimulai dari ruang rapat kecil di Tobelo, dengan peta, kalkulator, dan keberanian ditentukan pintu Pasifik.

 

Hasil Canga modern ini telah membuka tiga pintu gerbang yaitu, Pintu Gerbang melalui Udara dibukanya Bandara Kuabang di kecamatan Kao, Jalur Darat yang selalu ramai menghubungkan antar kabupaten di Maluku Utara, dan Jalur Laut Pelabuhan Canga Tobelo sebagai pintu gerbang Ekonomi Global di Jalur Pasifik.


Berita Lainnya